Kang Irfan

Tuesday, October 25, 2016

NABI ADAM AS. BUKANLAH MANUSIA PERTAMA

0 Komentar


Nabi Adam as bukan manusia pertama? Membaca judul ini, saya rasa banyak orang yang akan kaget. Sebab, yang kita tahu sejak SD (di pelajaran agama) manusia pertama di bumi adalah Nabi Adam as bukan? Adanya, diktum bahwa “Nabi Adam bukanlah manusia pertama” seakan-akan meluluh-lantakkan pondasi iman kita.

Semoga saja, tulisan ini tak menyulut pelabelan “otomatis kafir” atas diri saya. Toh, saya menulis berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan dalam ayat-ayat Quran.

Saya akan mulai dengan bahasan, Allah hendak menjadikan seorang “Khalifah” di muka bumi. Tentu, kata “Khalifah” ini merujuk kepada Nabi Adam as. 

Mendengar Allah hendak menjadikan seorang Khalifah, para malaikat “protes”. “Apakah Engkau akan menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya?” begitulah protes para malaikat.

Pertanyaannya adalah, mengapa para malaikat bisa tahu bahwa yang namanya manusia akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah? Sekiranya, Nabi Adam adalah manusia pertama. 

Tentu saja para Malaikat bisa tahu. Sebab, sudah ada manusia-manusia lain sebelum dijadikannya Nabi Adam as. Para malaikat sudah memiliki data tentang sifat-sifat manusia. Mustahil tanpa “track reccord” malaikat tahu masa depan sebagai mana Allah sebagai ‘Alimul Ghaib.

Tapi. Yang hendak Allah ciptakan adalah seorang “Khalifah”. Ia adalah manusia pilihan yang akan membawa manusia pada sebuah peradaban yang lebih untuk zamannya. Kata “khalifah” bisa juga diartikan sebagai nabi, sebagaimana Nabi Daud as disebut sebagai Khalifah dalam Quran.

Adanya seorang Khalifah, yakni utusan Allah, manusia dapat mencapai tingkatan dimana mereka mampu melampaui derajat para malaikat. Sebab, manusia diberi pilihan untuk menjalani hidupnya. Mau mengambil jalan kebaikan atau jalan keburukan.

Tentunya. Nabi Adam as tidak akan bisa disebut Khalifah kalau tidak ada “umat”. Sebagai Khalifah, siapakah yang akan Nabi Adam as bimbing untuk meraih derajat dimana para malaikat “bersujud” di hadapannya? 

Apakah Nabi Adam tinggal di Surga?

Mayoritas umat Islam akan menjawabnya, “Ya”. 

Nabi Adam as beserta istri beliau diperintahkan untuk tinggal di sebuah tempat bernama “jannah”. Kata “jannah” ini diterjemahkan sebagai surga. Padahal, arti yang umum dari kata “jannah” salah satunya adalah kebun atau taman.

Kalau kata “jannah” disini diartikan sebagai surga, bagaimana dengan ayat ini, “Laa yamassuhum fiihaa nashabun wamaahum minhaa bimukhrajiin.” (QS. Al-Hijr: 49)

Yang artinya, “Keletihan tidak akan menyentuh mereka di dalamnya (surga) dan (selamanya) mereka tidak akan dikeluarkan dari situ.”

Bagaimana bisa Nabi Adam as dikeluarkan dari surga? Padahal, sudah terdapat ketentuan bahwa mereka yang masuk ke dalam surga takkan pernah bisa dikeluarkan dari situ.

Quran mengatakan bahwa Nabi Adam as dikeluarkan dari “jannah” karena kesalahan yang beliau dan istri beliau lakukan. Lalu, pertanyaannya adalah, bagaimana bisa di dalam surga manusia berbuat kesalahan? Bukankah, hal-hal baik saja yang akan dikerjakan manusia dalam surga? Apakah di dalam surga masih terdapat ujian yang harus manusia lewati? Bukankah surga adalah akhir dari segala apa yang telah manusia kerjakan?

Tentu. Pertanyaan-pertanyaan ini amat pelik untuk dijawab. Ya, karena kita sudah keliru memahami makna dari “jannah”. Pemahaman yang salah ini, yang membuat ayat-ayat Quran lainnya tak mendukung satu sama lain. Kita hanya bisa berkomentar, “Pokoknya.. Pokoknya..”

Ringkasnya. Kata “jannah” disini harus diterjemahkan dalam arti yang berbeda. Seperti taman atau kebun yang memiliki tanah yang subur, di dalamnya mengalir sungai-sungai. Dan disitu terdapat sebuah kehidupan yang terdiri dari banyak manusia. 

Sebuah mimpi dari Muhyiddin Ibnu Arabi

Ibnu Arabi, seorang sufi besar, mengatakan bahwa ia bermimpi melihat dirinya sendiri sedang bertawaf di Ka’bah. Dalam mimpi itu seorang yang menyatakan dirinya sebagai nenek moyangnya nampak di hadapannya.

“Sudah berapa lama berlalu sejak anda meninggal?” tanya Ibnu Arabi.

“Lebih dari 40.000 tahun,” jawab orang itu.

“Masa itu jauh lebih lama, dari masa yang memisahkan kita dengan Adam,” kata Ibnu Arabi lagi.

Orang itu menjawab, “Adam yang mana yang engkau bicarakan? Adam yang terdekat kepada engkau atau Adam yang lain?”

“Maka aku ingat,” kata Ibnu Arabi. “Suatu sabda Rasulullah saw yang maksudnya bahwa Allah telah menjadikan tidak kurang 100.000 Adam dan aku berkata dalam hati, ‘Barangkali orang yang mengaku dirinya datukku ini seorang  dari Adam-Adam terdahulu.’”

"Penulis : Saleh A Nahdi"

posted from Bloggeroid

Selanjutnya...>

Dakwah itu...

0 Komentar

*DAKWAH ITU . . . . . . . . . . . . .*

▫Dakwah itu membina, bukan menghina.

▫Dakwah itu mendidik, bukan 'membidik'

▫Dakwah itu mengobati, bukan melukai.

▫Dakwah itu mengukuhkan, bukan meruntuhkan.

▫Dakwah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

▫Dakwah itu mengajak, bukan mengejek.

▫Dakwah itu menyejukkan, bukan memojokkan.

▫Dakwah itu mengajar, bukan menghajar.

▫Dakwah itu saling belajar, bukan saling bertengkar.

▫Dakwah itu menasehati, bukan mencaci maki.

▫Dakwah itu merangkul, bukan memukul.

▫Dakwah itu ngajak bersabar, bukan ngajak mencakar.

▫Dakwah itu argumentative, bukan provokatif.

▫Dakwah itu bergerak cepat, bukan sibuk berdebat.

▫Dakwah itu realistis, bukan fantastis.

▫Dakwah itu mencerdaskan, bukan membodohkan.

▫Dakwah itu menawarkan solusi, bukan mengumbar janji.

▫Dakwah itu berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan.

▫Dakwah itu menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat.

▫Dakwah itu memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru.

▫Dakwah itu mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan.

▫Dakwah itu pandai memikat, bukan mahir mengumpat.

▫Dakwah itu menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan.

▫Dakwah itu menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari2 aib dan menyebarkannya.

▫Dakwah itu menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran.

▫Dakwah itu mendukung semua program kebaikan, bukan memunculkan keraguan.

▫Dakwah itu memberi senyum manis, bukan menjatuhkan vonis.

▫Dakwah itu berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat.

▫Dakwah itu menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan.

▫Dakwah itu kompak dalam perbedaan, bukan ribut mengklaim kebenaran.

▫Dakwah itu siap menghadapi musuh, bukan selalu mencari musuh.

▫Dakwah itu mencari teman, bukan mencari lawan.

▫Dakwah itu melawan kesesatan, bukan mengotak atik kebenaran.

▫Dakwah itu asyik dalam kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian.

▫Dakwah itu menampung semua lapisan, bukan memecah belah persatuan.

▫Dakwah itu kita mengatakan: "aku cinta kamu", bukan "aku benci kamu"

▫Dakwah itu kita mengatakan: "Mari bersama kami" bukan "Kamu harus ikut kami".

▫Dakwah itu "Beaya Sendiri" bukan "Dibeayai/Disponsori"

▫Dakwah itu "Habis berapa ?" bukan "Dapat berapa ?"

▫Dakwah itu "Memanggil/Mendatangi" bukan "Dipanggil/Panggilan"

▫Dakwah itu "Saling Islah" bukan "Saling Salah"

▫Dakwah itu di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga dimana saja, bukan hanya di pengajian.

▫Dakwah itu dengan "Cara Nabi" bukan dg "Cara Sendiri"

Disadur dari Group Whatsupp

posted from Bloggeroid

Selanjutnya...>

Tuesday, October 4, 2016

Wedding Invitation

0 Komentar

“DAN di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan bagimu jodoh-jodoh dari jenismu sendiri supaya kamu memperoleh ketenteraman padanya, Dan, Dia telah jadikan di antara kamu kecintaan dan kasih-sayang. Sesungguhnya, di dalam yang demikian itu, ada tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS [Ar-Rûm] 30:22)

“Wahai generasi muda! Bila di antaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR Bukhari dan Muslim, dari Hadhrat Ibnu Mas’ud r.a.)
_
Salam pamit untukmu shobat….!!
Setelah kurenungi dan kuresapi ternyata masa remajaku sungguh indah dan menyenangkan yang penuh suka duka yang akhirnya akan menjadi sebuah kenangan terindah yang takkan kulupakan.

Namun hari ini esok dan seterusnya aku harus rela melepaskan masa remajaku demi merealisasikan Sunnah Rosul.

Untuk menautkan dua hati dalam ikatan suci pernikahan, semoga menjadi langkah awal kami menuju surga.

Dengan mengucap syukur yang tak terhingga atas berkah dan karunia Tuhan YME, kami bermaksud mengucap ikrar suci dalam pernikahan kami

Anniasty Arifin
dengan
Irfan Nurjaman
yang Insya Allah akan dilaksanakan pada:

Minggu, 16 Oktober 2016
Pukul : 08:00 - Selesai
Alamat : Jl. Fatmawati X RT. XI Kelurahan Penurunan Ratu Samban Kota Bengkulu


Tiada lain yang dapat kami ungkapkan, selain ucapan terima kasih yang tulus, atas doa dan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i

Ini menjawab juga bagi di antara Anda yang senantiasa menanyakan "Kapan nikah, Fan?"

Note : Jika ingin mengucapkan doa atau apapun itu silahkan tuliskan di kolom komentar

posted from Bloggeroid

Selanjutnya...>


Populer Bulan Ini

 

Kang Irfan | Copyright 2010-2015 All Rights Reserved | Contact | Privacy Policy | Mobile View